Pengertian Matan dalam Hadits

Posted on

Pengertian Matan

Pengertian matan secara etimologi yaitu tanah yang tinggi dan keras, sedangkan menurut istilah matan adalah sebuah kalimat yang terletak setelah berakhirnya sanad suatu hadits. Sederhanya matan yaitu isi hadits, yang mengandung ungkapan Nabi Muhammad SAW. Letak matan ini berada setelah penyebutan nama rawinya selesai, atau sebelum penyebutan ahli haditsnya yang ada di akhir hadits.pengertian matan

Sahabat muslim yang sedang mempelajari ilmu hadits, mungkin merasa bahwa pembahasan mengenai matan adalah bab yang paling mudah. Karena tidak memiliki ciri atau kategori turunan seperti rawi dan sanad. Sahabat muslim hanya perlu mengidentifikasi isi haditsnya maka itulah matan yang ada pada hadits, tidak sulit bukan?


Pengertian Matan dan Contohnya

Tidak banyak istilah atau unsur yang dimiliki oleh matan, makna dari matan hadits hanyalah isi hadits itu sendiri. Matan juga tidak menentukan shohih atau tidaknya sebuah haidts, karena hanya rawi dan sanad yang dapat menjadi indikasi keshohihan sebuah hadits. Jika sanad dan rawinya sudah sempurna, maka matannya bisa diamalkan. Berikut contoh matan dan penjelasannya:

Baca Juga : Pengertian Rawi, Syarat, dan Tingkatannya

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَبُو الرَّبِيعِ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ أَبُو سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman Abu ar Rabi’ berkata, telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Malik bin Abu ‘Amir Abu Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tanda tanda munafik ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat dia khianat.” (HR. Bukhari).

Hadits tersebut memiliki rawi dan sanad yang sempurna, sehingga matannya dapat sahabat muslim imani. Matannya menjelaskan tentang ciri-ciri orang munafik, yaitu orang yang suka berbohong, ingkar janji, dan khianat. Rasullah menerangkannya secara jelas, bahwa orang munafik adalah orang yang tidak pernah bisa memegang ucapannya sendiri.

Ada banyak hadits lain yang membahas mengenai orang munafik, mereka tidak akan mendapat ridho Allah dan manusia. Mereka juga tergolong pada orang Islam fasik, yaitu muslim yang tidak menjalankan kewajiban Allah serta banyak berbuat dosa dengan sengaja. Hal ini bisa menjadi dasar pembelajaran ilmu agama, karena pembahasannya umum dan mudah dipahami oleh orang awam.


Syarat Matan dan Sanad untuk Hadits Hasan

Hadits hasan pada dasarnya memang tidak jauh berbeda dengan hadits shohih, keduanya memiliki kekuatan tersendiri sehingga matannya bisa dipercaya. Menurut Ibnu Hajar, hadits hasan adalah hadits yang kemudian matannya dinukilkan oleh rawi adil namun hafalannya kurang kuat. Selain itu sanadnya juga muttasil, tidak cacat dan tidak ganjil, hampir sama seperti hadits shohih.

Baca Juga : Pengertian dan Contoh Lengkap Jamak Taksir

Meskipun matan tidak mejadi penentu dari keshohihan sebuah hadits, tetapi matan memiliki syarat tertentu untuk menjadi penguat atas keshohihan hadits. Isi sebuah hadits tentunya harus dapat dipahami oleh pembaca, agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemahamannya. Berikut ini beberapa syarat matan dan sanad untuk hadits hasan:


  • Tidak Tertuduh Dusta

Rawi yang adil menjadi syarat utama dalam hadits shohih, karena kekuatan hafalan dan kejujuran menjadi hal yang penting dalam menyampai kan sebuah hadits. Jika matan tertuduh dusta atau bohong, maka apa yang diriwayatkan oleh rawi tidak bisa lagi menjadi sebuah hadits yang dapat dipercaya.


  • Tidak Mengandung Syadz

Syadz dalam hadits yaitu kejanggalan, jika matan hadits mengandung kejanggalan maka keshohihannya tidak ada. Kejanggalan ini  biasanya terjadi karena kurang hafalan atau lemahnya ingatan rawi, sehingga apa yang disampaikan kepada rawi lainnya menjadi samar dan tidak jelas, dan terjadilah kejanggalan hadits yang biasanya menjadi perdebatan ulama.


  • Diriwayatkan melalui Jalan Lain

Jika hadits mengandung syadz dan tertuduh dusta, kemudian matannya diriwayatkan melalui jalan lain, maka hadits tersebut dianggap hasan dan bukan shohih. Maksud jalan lain di sini, yaitu banyak perawi yang meriwayatkannya. Bahkan bisa terdiri dari 2 rangkaian sanad sekaligus, sehingga keshohihannya dapat dipertimbangkan.


Matan pada Hadits Dhaif

Sahabat muslim mungkin sudah sering mendengar mengenai hadits dhaif, banyak yang mengatakan bahwa hadits tersebut sesat dan tidak boleh diamalkan. Sebagian besar ulama pun bersepakat untuk melarang berhujah menggunakan hadits dhaif, namun tetap saja ada beberapa pendapat yang masih membolehkannya.

Biasanya yang menjadi pertimbangan kebolehan tersebut terletak pada matannya, yaitu isi haditsnya masih masuk akal dan tidak menyalahi aturan keimanan. Sehingga para ulama berpendapat untuk membolehkan berhujah menggunakan hadits dhaif dengan tiga syarat, yaitu; haditsnya tidak keterlaluan, matannya masih bersandar pada hadits shohih dan hasan, tidak mengitikadkan pada Nabi.

Baca Juga : Mengenal Ta Marbutah dalam Bahasa Arab dan Al Qur’an

Beberapa hadits yang dianggap lemah, yaitu hadits mengenai amalan ringan namun disebut-sebut bisa mendapat pahala yang banyak sekali. Biasanya banyak terjadi perdebatan mengenai hadits seperti itu, karena dianggap berlebihan. Namun pendapat lain mengatakan, bahwa tidak ada salahnya mengamalkan apa yang disebut oleh hadits dhaif, karena tidak menyalahi aturan agama Islam.

Pengertian matan memang singkat dan tidak banyak pembahasan turunannya, namun jika dibahas lebih dalam, akan banyak detail yang bisa sahabat muslim dapatkan. Makna dan kriteria matan saja sudah cukup untuk menjadi pengetahuan dasar suatu hadits, karena matan bukan menjadi unsur penentu keaslian sebuah hadits.

Pemuda Muslim Yang Hoby Menulis #Publisher #Programmer #Blogger #SEO