Pengertian Taukid

Posted on

Pada kitab Al – Qur’an terdapat berbagai macam informasi dan pesan, yang bisa digunakan untuk menjalani kehidupan sehari – hari. Pesan tersebut dapat dipelajari dengan menggunakan berbagai macam teknik. Salah satunya adalah teknik pengertian taukid. Tidaklah mudah untuk mempelajari teknik ini. Oleh sebab itu, sahabat muslim wajib memahami dengan sebaik mungkin.Taukid


Pengertian Taukid

Pengertian taukid adalah salah satu huruf yang digunakan untuk menguatkan hal yang sedang dibicarakan oleh orang lain, dalam merespon tindakan keingkarannya. Untuk mengetahuinya, sahabat muslim harus menguraikan huruf penguatnya ke dalam itsbat atau kalimat positif. Kalimat positif tersebut, terbebas dari kata menafikan seperti “tidak” atau “bukan”.

Baca Juga : Na’at dan Man’ut, Penjelasan Lengkap!


Huruf – Huruf Penguat

Ada lima jenis huruf penguat yang wajib sahabat muslim semua ketahui. Setiap huruf, memiliki artinya masing – masing. Sehingga jangan sampai keliru menggunakan huruf penguat tersebut, karena bisa bermakna lain atau tidak nyambung.

  • Wawu (وَ ), ba’ ( بَ ), ta’ ( تَ ) diartikan sebagai demi.
  • Qod ( قَدْ ) diartikan sesungguhnya.
  • Inna ( اِنَّ ) artinya sesungguhnya.
  • Laam al-Ibtida’ ( ل ) dan nun taukid digunakan untuk mengartikan sungguh pasti, niscaya.
  • Khafifah ( نْ ) dan tsaqilah ( نّ ) diartikan sungguh benar-benar.

Syarat Penguat

Penggunaan huruf penguat harus sesuai dengan syarat yang sudah ditentukan. Sehingga tidak bisa asal menggunakan dan mengucapkannya. Syarat pertama adalah huruf penguat harus mengikuti hukum i’rab laksana muakadnya. Kemudian syarat kedua adalah format isim muakkad, biasanya berbentuk ma’rifat.

Baca Juga : Macam-Macam Lam


Ketentuan Penguat

Pada huruf penguat, memiliki ketentuan yang wajib dipatuhi sebelum mulai menggunakannya. Bila dilihat dari ketentuannya, hampir sama dengan syarat dalam menggunakan huruf penguat. Namun ada beberapa komponen yang membedakan.

  • Lafaz َكُلُّ, اَلنَّفْسُ, dan َالْعَيْنُ wajib diubah dari mudof menjadi isim dhomir, agar kembali menuju muakkadnya.
  • Bila akan menguatkan isim tasniyah atau bentuk jamak, maka lafaz َالْعَيْنُ dan اَلنَّفْسُ harus mengikuti wazan af’ulu.
  • Pada lafaz َكُلُّ berfungsi untuk menguatkan isim yang memiliki makna secara umum.
  • Bagi lafaz َأَجْمَعُ biasa digunakan untuk menguatkan isim atau jamak mudzakat salim yang tidak diubah menjadi mudhofkan menjadi isim dhomir.
  • Lafaz اَكْتَعُوْنَ, اَبْصَعُوْنَ, digunakan untuk menguatkan, namun harus jatuh dalam lafaz َأَجْمَع.

Macam – Macam Penguat

Huruf penguat terbagi menjadi dua macam. Masing – masing penguat memiliki ketentuannya sendiri. Sehingga sahabat muslim jangan sampai keliru menggunakan huruf penguat tersebut.

Baca Juga : Jamak Taksir, Penjelasan Lengkapnya!


  • Penguat Ma’nawi

Penguat ma’nawi merupakan pengukuhan yang diambil dari ma’nanya. Dalam penguat ma’nawi, selalu menggunakan beberapa jenis lafaz. Mulai dari اَلنَّفْسُ (diri), َالْعَيْنُ (diri), كُلُّ (semua), َأَجْمَعُ (seluruh), dan اَكْتَعُوْنَ اَبْتَعُوْنَ اَبْصَعُوْنَ (lafaz yang mengikuti ajma’u atau seluruhnya). Bila dalam menyampaikan pesan menggunakan lafaz ini, maka tidak akan diragukan oleh lawan bicara.


  • Penguat Lafdzi

Lafdzi merupakan penguat yang digunakan dengan cara melipatgandakan lafaz fiil, laksana isim, atau kalimat. Dalam penguat lafdzi ini, memiliki enam unsur yang sangat penting di dalamnya. Mulai dari isim dhohir laksana, isim mutarodhif laksana, isim dhomir laksana, huruf laksana, jumlah laksana, dan fi’il laksana.


Kondisi Lawan Bicara

Ada beberapa kondisi yang tepat untuk memilih lawan bicara. Setelah mengetahui kondisi tersebut, sahabat muslim bisa memilih penggunaan diksi sesuai lingkungannya.


  • Lawan Bicara Pertama

Lawan bicara dapat menerima berbagai macam informasi baru yang akan disampaikan. Dengan begitu, sahabat muslim bisa menggunakan pilihan kata yang jelas dan singkat kepada lawan bicara tersebut. Sehingga tidak perlu lagi menggunakan kata penguat sebagai penekanan informasi tersebut. Meskipun menggunakan kata penguat, itu hanya satu jenis saja.

Baca Juga : Pengenalan Asmaul Khomsah Beserta dengan Contohnya


  • Lawan Bicara Kedua

Lawan bicara yang memiliki sifat ragu ketika menerima informasi baru. Oleh sebab itu, sahabat muslim harus menggunakan tekanan dan penguat dalam melakukan pembicaraan dan menyampaikan informasi tersebut. Penguat yang dimaksud antara lain demi, sesungguhnya, sungguh pasti, niscaya, dan sungguh benar – benar.


  • Lawan Bicara Ketiga

Lawan bicara yang memiliki sifat suka membantah dan ingkar. Untuk berbicara dengan orang tersebut, harus menggunakan kata penguat yang lebih menekankan pada informasi baru. Biasanya penggunaan kata penguat tersebut, dilakukan lebih dari dua. Hal ini bertujuan agar informasi tersebut, dapat diterima dengan baik oleh lawan bicara.


Contoh Penguat

Ada banyak contoh kalimat yang menggunakan kata penguat di dalamnya. Contoh tersebut bisa dari kehidupan sehari – hari atau potongan ayat Al – Qur’an.

  • Fatimah yang datang sendirian.
  • Palima perang sudah hadir di lapangan.
  • Dua orang lelaki datang sendirian.
  • Dua orang perempuan datang ke lapangan.
  • Para peliharaan unta datang kesini.
  • Semua orang Arab baik hati.
  • Kumpulan kaum yang sudah kumpul.
  • Semua wanita sudah datang tepat waktu.
  • Seorang lelaki datang sendirian.
  • Ada dua sungai yang mengalir di dasar laut.
  • Setiap manusia terikat dengan sesuatu hal.
  • Banyak masyarakat yang melakukan pertemuan.
  • Semua murid sudah hadir dalam kelas.
  • Banyak wanita yang hadir di lapangan.
  • Para demonstran berlomba – lomba menyerbu gedung pemerintah.

Baca Juga : Metode Tamyiz

Huruf penguat dalam bahasa Arab, biasa digunakan untuk menyampaikan informasi baru kepada lawan bicara. Penggunaan huruf penguat tersebut, disesuaikan dengan kemampuan komunikasi yang dimiliki oleh lawan bicara. Bila lawan bicara tersebut mudah memahami informasi, maka tidak perlu menggunakan huruf penguat. Begitu juga sebaliknya.

Pemuda Muslim Yang Hoby Menulis #Publisher #Programmer #Blogger #SEO