Pengertian Tawabi

Posted on

Tawabi merupakan kata keterangan yang tidak mengalami perubahan di akhir kalimat secara langsung. Hal ini karena kata tersebut sama dengan bentuk i’rab empat yang keberadaannya sama dengan kata itu sendiri. Dalam kata tawabi, terdiri dari empat bagian. Mulai dari na’at, athof, badal, dan taukid.Taukid


Naat

Na’at merupakan sebuah kata yang posisinya ada sesudah kata lain. Tujuan menggunakan naat ini adalah untuk memperjelas makna dari kata sebelumnya atau yang memiliki hubungan satu sama lainnya. Naat sendiri terdiri dari 3 macam, yang memiliki fungsi masing – masing.

Baca Juga :  Pengertian Athof dan Fungsinya


  • Na’at Hakiki

Na’at hakiki adalah na’at yang memiliki sifat seperti kata sebelumnya atau biasa dikenal dengan man’ut. Dalam penggunaan na’at hakiki, harus disesuaikan dengan beberapa hal penting. Mulai dari i’rob, ma’rifat – nakiroh, muannats – mudzakkar, dan jumlahnya.


  • Na’at Sababiy

Na’at sababiy adalah na’at yang bersifat sama dengan kata sebelumnya. Dalam na’at ini, selalu mengikuti man’ut berupa i’rob dan nakiroh – ma’rifat. Uniknya, na’at sababiy wajib dalam bentuk mufrod.


Athof

Athof adalah jenis tawabi, yang ada setelah kata penghubung dalam Bahasa Arab. Fungsi dari athof tersebut yaitu untuk menjadi penghubung sesama isim atau fi’il. Bila dalam ilmu Bahasa Indonesia, athof ini dikenal sebagai kata penghubung. Meskipun secara bahasa berbeda, namun makna yang dihasilkan memiliki kesamaan satu sama lain.

Tawabi athof memiliki dua macam. Dalam setiap athof tersebut, memiliki fungsi dan ketentuannya masing – masing.


  • Kata Penghubung Bayan

Athof bayan adalah tabi’ yang memiliki bentuk layaknya isim jamid. Athof tersebut memiliki fungsi untuk menjelaskan matbu’, bilamana berupa isim ma’rifat. Fungsi lain dari bayan juga untuk mengkhususkan matbu’ bila masih berupa isim nakirah.


  • Kata Penghubung Nasaq

Athof nasaq adalah sebuah lafaz yang saling berhubungan dan mengandung kata penghubung di dalamnya. pada athof tersebut, selalu mengandung ma’thuf alaih, tabi’, dan kata penghubung arab di dalamnya. Semua komponen tersebut, dijadikan sebagai rukun wajib dalam nasaq.

Baca Juga : Pengertian Taukid


Badal

Badal merupakan kata yang tidak menggunakan perantara, untuk mengikuti kata sebelumnya. Sebutan lain dari badal adalah kata pengganti atau mubdal minhu. Dalam kata badal, terdiri dari tiga macam.


  • Badal Muthobiq

Badal muthobiq merupakan makna yang digunakan untuk mewakili makna yang sama dengan dalam ayat Al – Quran. Badal mutobiq seringkali ditemukan dalam potongan hadits dan juga ayat Al – Qur’an.


  • Badal Isytimal

Isytimal merupakan badal yang memiliki kandungan secara abstrak dan selalu bersifat mudhof di dalamnya. Mudhof tersebut harus berupa dhomir dan mubdal minhu.


  • Badal Ba’dlu Mun Kul

Ba’dlu mun kul merupakan badal dari bagian mubdal minhu. Dalam badal ini selalu mudhof dan kembali menjadi mubdal minhu.


Taukid

Taukid merupakan huruf penguat yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain, dalam merespon tindakan keingkarannya. Kalimat positif ini, wajib terbebas dari kata menafikan seperti “tidak” atau “bukan”. Untuk mengetahuinya, sahabat muslim harus menguraikan huruf penguatnya ke dalam itsbat atau kalimat positif.


  • Huruf Penguat

Huruf penguat, memiliki lima jenis yang wajib sahabat muslim ketahui. Dalam masing – masing huruf, memiliki artinya sendiri.

  • Khafifah ( نْ ) dan Tsaqilah ( نّ ) mengandung pernyataan sungguh benar-benar.
  • Wawu (وَ ), ba’ ( بَ ), ta’ ( تَ ) artinya demi.
  • Inna ( اِنَّ ) diartikan sebagai sesungguhnya.
  • Laam al-Ibtida’ ( ل ) dan Nun Taukid dipakai untuk menyatakan sungguh pasti, niscaya.
  • Qod ( قَدْ ) digunakan untuk menyatakan sesungguhnya.

  • Syarat dan Ketentuan Penguat

Syarat dan ketentuan penggunaan huruf penguat wajib diketahui, sebelum memulai percakapan dengan lawan bicara. Hal ini bertujuan agar sahabat muslim, dapat menggunakan huruf penguat tersebut dengan benar. Pertama adalah antara huruf penguat dengan hukum i’rab laksana muaka, wajib digunakan bersama-sama. Kedua adalah isim muakad, sering berupa ma’rifat.

  • Bagi lafaz َأَجْمَعُ sering dipakai untuk menguatkan jamak mudzakat salim, dengan alasan tidak diubah ke dalam isim dlomir.
  • Lafaz اَكْتَعُوْنَ, اَبْصَعُوْنَ, hanya dipakai dengan tujuan menguatkan, khusus ketika jatuh pada َأَجْمَع.
  • Pada َكُلُّ, اَلنَّفْسُ, dan َالْعَيْنُ perubahan dilakukan untuk mengembalikan isim dlomir menjadi muakkadnya.
  • Lafaz َالْعَيْنُ dan اَلنَّفْسُ wajib mengikuti wazan af’ulu, jika ingin memperkuat bagian isim tasniyah.
  • Pada lafaz َكُلُّ digunakan untuk memperkuat isim, karena mengandung arti secara luas.

  • Macam – Macam Penguat

Ada dua macam huruf penguat yang seringkali digunakan untuk berkomunikasi dengan lawan bicara. Setiap macam penguat memiliki fungsinya masing-masing. Oleh sebab itu, sahabat muslim jangan sampai salah dalam menggunakan huruf penguat yang sudah ditentukan tersebut.

  • Penguat Ma’nawi

Pada penguat ma’nawi, digunakan untuk mengukuhkan lafaz yang berasal dari ma’nanya. Perlu diingat bahwa penguat ma’nawi tersebut, harus menggunakan beberapa lafaz. Seperti halnya كُلُّ (semua), َأَجْمَعُ (seluruh), اَلنَّفْسُ (diri), َالْعَيْنُ (diri), dan اَكْتَعُوْنَ اَبْتَعُوْنَ اَبْصَعُوْنَ (lafaz yang mengikuti ajma’u atau seluruhnya). Uniknya saat menggunakan penguat ini, akan dipercaya orang lain.

  • Penguat Lafdzi

Penguat lafdzi harus dipakai dengan cara dilipat gandakan. Bagian yang dilipat gandakan adalah kalimat, lafaz fiil, atau laksana isim. Uniknya dalam penguat jenis ini, memiliki enam unsur penting yaitu fi’il laksana, isim dhohir laksana, jumlah laksana, isim dhomir laksana, dan huruf laksana.

Baca Juga : Na’at dan Man’ut, Penjelasan Lengkap!

Tawabi’ seringkali digunakan untuk memahami pesan yang ada dalam Al – Qur’an. Dalam tawabi’ ini, terdiri dari 4 komponen. Mulai dari na’at, athof, badal, dan taukid. Dalam komponen tersebut, memiliki fungsi dan ketentuannya sendiri.

Pemuda Muslim Yang Hoby Menulis #Publisher #Programmer #Blogger #SEO