Pemikiran, Karya dan Biografi Al Farabi

Posted on

Sahabat muslim mungkin merasa bahwa kebanyakan filsuf terkenal berasal dari negeri Eropa. Namun siapa sangka, umat Islam juga memiliki filsuf yang karyanya berpengaruh dan dikenal hingga saat ini. Salah satunya adalah Al Farabi, kecerdasannya membuat beliau dijuluki The Second Master (Guru Besar Kedua). Untuk lebih mengenal sosoknya, berikut biografi Al Farabi yang bisa disimak.Biografi Al Farabi


Profil Biografi Al Farabi

Al Farabi lahir di Faryab pada tahun 870 Masehi dengan nama lengkap Abu Nasir Al Farabi. Beliau memiliki nama populer seperti Alpharabius, Farabi, dan Abu Nasir. Sosok cerdas Al Farabi terkenal hingga ke negara-negara barat. Sebagai filsuf muslim, beliau sanggup mempelajari hasil pemikiran filsafat Yunani kuno. Di antaranya adalah karya filsafat klasik dari Aristoteles dan Plato.

Baca Juga : Biografi Al Kindi

Keberhasilannya tidak hanya seputar mempelajari filsafat, namun juga menggabungkan hasil pemikiran kedua filsuf legendaris tersebut dengan ilmu agama Islam.

Di negara-negara Arab, sosoknya dikenal sebagai filsuf terbaik dengan pemikiran jenius. Maka tak heran jika beliau dijuluki sebagai Guru Besar Kedua setelah Aristoteles dari Yunani. Sosok Al Farabi  memang spesial, bahkan Ibnu Sina sang ilmuwan kedokteran baru memahami pemikiran Aristoteles dari karyanya.

Beliau memahami filsafat Yunani kuno tersebut dari karya Al Farabi yang berjudul Tahqiq Ghardh Aristhu fi Kitab ma Ba’da Ath-Tabi’ah. Hal ini menunjukkan kecerdasan Al Farabi yang tidak perlu diragukan lagi. Beliau berhasil mengolah ulang pemikiran Aristoteles menjadi pembahasan yang lebih mudah dipahami.


Pengembaraan ke Berbagai Wilayah

Sejak usia muda, Al Farabi dikenal sebagai sosok cerdas dengan keingintahuan yang besar. Oleh karena itu, beliau sering melakukan perjalanan hingga ke berbagai negara di Timur Tengah, seperti Baghdad, Bukhara, Mesir, dan Suriah.

Baca Juga : Biografi Al Khawarizmi

Saat berada di Bukhara, beliau terkesan dengan tempat tersebut yang menjadi pusat pendidikan dan agama kala masa pemerintahan Dinasti Samaniyah. Oleh karena itu, beliau banyak mempelajari ilmu filsafat Persia, ilmu fiqih, mempelajari alat musik, dan bidang ilmu lainnya.

Beberapa tahun berlalu, kemudian beliau hijrah menuju Baghdad untuk mempelajari bahasa Arab dari pakarnya, Abu Bakar Al Sarraj. Sedangkan ilmu filsafat beliau pelajari dari Abu Bishr Matta Ibnu Yunus. Setelah itu, beliau mengembara ke Kota Harran, Suriah di tahun 920 Masehi. Saat itu, kota tersebut dikenal sebagai pusat kebudayaan Yunani kuno di Asia.

Al Farabi tidak lama belajar di Harran, beliau hendak kembali ke Baghdad untuk mempelajari filsafat dan ilmu logika. Namun, situasi politik di Baghdad sedang buruk saat itu. Beliau pun memutuskan hijrah menuju Aleppo pada tahun 942 masehi selama empat tahun.

Setelah itu, Al Farabi melakukan perjalanan kembali ke Damaskus dan bertemu berbagai tokoh. Misalnya seorang Kepala Distrik Aleppo, Saif Al Daulah Al Hamdani yang dikenal dengan kecerdasannya. Karena terkesan dengan pemikiran Al Farabi, pejabat tersebut kemudian memintanya untuk menjadi penasehat.

Baca Juga : Biografi Ibnu Sina

Meski telah diberi posisi yang lumayan, Al Farabi tetap hidup sederhana. Bahkan beliau menyumbangkan penghasilannya untuk orang-orang yang lebih membutuhkan.


Hasil Pemikiran Al Farabi


  • Filsafat Dasar

Menurut Al Farabi, ilmu filsafat adalah dasar dari segala ilmu. Oleh karena itu, beliau berpendapat bahwa setiap penuntut ilmu perlu mempelajari filsafat. Tidak perlu khawatir mengenai ilmu agama Islam yang akan bertentangan dengan ilmu filsafat. Kenyataannya, Al Farabi berhasil membuktikan bahwa dasar-dasar ilmu tersebut saling mendukung dengan nilai ajaran Islam.

Pemikiran Al Farabi banyak dipengaruhi oleh dua filsuf terkenal di era Yunani kuno, siapa lagi kalau bukan Aristoteles dan Plato. Menariknya, Al Farabi tidak mengutamakan perbandingan pemikiran filsafat dari kedua filsuf besar tersebut. Justru, beliau berhasil menggabungkan pemikiran beberapa ilmu filsafat menjadi satu. Hal inilah yang membuatnya dikenal sebagai filsuf sinkretisme.

Baca Juga : Biografi Ibnu Khaldun


  • Metafisika

Pada dasarnya, metafisika masih bagian dari ilmu filsafat. Bidang ini mempelajari hubungan-hubungan antara kenyataan dengan hal-hal yang tak kasat mata. Biasanya, pembahasan yang paling sering diambil adalah mengenai tubuh manusia beserta kejiwaannya.

Di bidang ilmu metafisika, Al Farabi banyak menghubungkan ilmu filsafat dengan nilai ketuhanan. Hal ini beliau simpulkan dari konsep Neo Platonisme dari Aristoteles. Filsuf Yunani tersebut mengungkapkan bahwa Tuhan sebagai Al Maujud Al Awwal (sebab pertama bagi segala yang ada).


  • Konsep Negara

Al Farabi juga menghasilkan pemikiran mengenai konsep kenegaraan. Dalam hal ini, beliau banyak dipengaruhi Plato, Aristoteles, dan Ibnu Rabi. Salah satu pendapat karya terkenalnya mengenai kenegaraan adalah buku yang berjudul Al Madinah Al Fadhilah (Kota atau Negara Utama).

Baca Juga : Biografi Ibnu Rusyd


  • Musik

Al Farabi tidak hanya menghasilkan pemikiran filsafat dan kenegaraan. Sosoknya juga dikenal sebagai seniman yang mahir menggunakan berbagai alat instrumen musik. Beliau bahkan memiliki buku bertema musik yang berjudul Al-Musiqa.

Beliau berpendapat bahwa musik memiliki banyak manfaat bagi manusia dan mempengaruhi moral. Selain itu, menurutnya musik juga dapat mengendalikan amarah, membesarkan spiritualitas, dan menyembuhkan penyakit.

Jadi, apakah Sahabat muslim sudah lebih mengenal sosok cerdas Al Farabi? Ilmuwan muslim ini memang banyak menghasilkan karya dan pemikiran luar biasa. Jika dipahami melalui biografi Al Farabi di atas, tak heran jika sosoknya banyak dikagumi bahkan di negeri-negeri barat sekalipun.

Pemuda Muslim Yang Sedang Memperbaiki Hati dan Diri #Programmer #Blogger #Desainer