Contoh Nahwu Shorof

Posted on

Hai sahabat muslim sekalian, jumpa lagi untuk berbagi ilmu tentang kaidah dalam hal kata dan kalimat pada Bahasa Arab. Seperti yang telah diketahui, bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an. Agar para sahabat muslim dapat memahami Al-Qur’an dengan baik, maka perlunya belajar tentang ilmu bahasa Arab yang disebut dengan nahwu dan mengetahui contoh nahwu shorof.Contoh Nahwu Shorof

Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW, keduanya memang ditulis dengan menggunakan bahasa Arab. Cara memahaminya adalah dengan menggunakan ilmu nahwu dan shorof. Secara umum yang dimaksud dengan nahwu adalah, sebuah ilmu yang fokus pembahasannya meliputi bentuk perubahan harakat akhir yang ada pada suatu kalimat.

Sumber : Contoh Jumlah Ismiyah


Contoh Nahwu Shorof

Definisi dari ilmu nahwu adalah suatu cabang ilmu yang pembahasannya fokus pada adanya perubahan yang terjadi pada harakat akhir suatu kalimat. Apabila seseorang salah atau keliru dalam menempatkan harakat pada tulisan bahasa Arab, maka bisa mengakibatkan perubahan makna. Beberapa ahli bahkan menyatakan bahwa ilmu nahwu merupakan bapak dari semua ilmu, dan shorof adalah ibunya

Lalu kenapa sahabat muslim perlu belajar tentang ilmu nahwu shorof. Ada ucapan dari seorang Al-Iman Mujahid yang mengatakan bahwa, “Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir berbicara tentang Kitab Allah (Agama Allah) sedang ia tidak tahu akan ilmu nahwu. Dengan memiliki pengetahuan akan ilmu nahwu akan membuat sahabat muslim memahami bahasa Arab lebih baik lagi.

Ilmu nahwu berbicara tentang suatu kata baik mabni maupun mu’rab, untuk mengetahui perubahan pada harakat huruf terakhir kalimat. Apakah akan berubah menjadi harakat kasrah, fathah, dhomah, atau mungkin juga dengan membuang huruf. Contobnya adalah kata Zaid yang bisa dibaca menjadi aidun, Zaidan, dan juga Zaidin.

ضَرَبَ زَيْدٌ فَاطِمَةَ

رَأَيْتُ زَيْدًا يُصَلِّى فِي الْمَسْجِدِ

مَرَرْتُ بِزَيْدٍ

Baca Juga : Contoh Tashrif Lughowi


Pengertian Nahwu dan Shorof


  • Ilmu Nahwu

Berdasarkan bahasa, yang dimaksud dengan ilmu nahwu adalah sebuah kumpulan yang terdiri dari kaidah yang ada dalam Bahasa Arab. Fungsi dari adanya ilmu nahwu ini adalah untuk mengetahui tentang bentuk kata dasar suatu kalimat, serta melihat keadaan saat masih berjumlah satu kata (muford) atau saat sudah tersusun (murokkab).

Belajar ilmu nahwu tidak bisa dipisahkan dari ilmu shorof. Hal ini karena ilmu shorof merupakan bagian dari ilmu nahwu, yang menekankan pembahasan tentang bentuk kata serta bagaimana keadaannya ketika bersifat mufrod. Contohnya adalah tentang bentuk isim fa’il yang mengikuti kata wazan فاعل, bagaimana cara menjamakkan, mentatsniyahkan, dan lain sebagainya.


  • Ilmu Shorof

Shorof merupakan salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang digunakan untuk mempelajari tentang perubahan bentuk pada kata. Dalam prakteknya, perubahan-perubahan ini lebih banyak dikenal dengan istilah tashrif.

Definisi dari tashrif adalah pengubahan, sedangkan dari sisi istilah maka tashrif merupakan pengubahan suatu bentuk asal pada contoh yang berbeda. Tujuannya adalah agar dapat menghasilkan makna yang dikehendaki. Jadi, shorof tersebut akan sangat identik dengan berubah atau perubahan. Contoh dari kata shorof tersebut adalah.

  • Asal kalimat adalah Fi’il Madhi menjadi: ضَرَب dibaca: Dharaba, bermakna: Telah memukul.
  • Diubah ke sampel Fi’il Mudhari’ menjadi: يَضْرِبُ dibaca: Yadhribu bermakna: Akan memukul.
  • Diubah menjadi contoh lain misalnya Masdar: ضَرْبٌ dibaca: Dharbun, bermakna: Pukulan.
  • Diubah ke sampel Fi’il Amar menjadi: اِضْرِبْ dibaca: Idhrib bermakna: Pukullah! Dan sebagainya.

Baca Juga : Kajian Naibul Fa’il, Pengertian, Contoh, dan Hukum-Hukumnya


Perbedaan dari Ilmu Nahwu dan Shorof

  • Nahwu dalam pembahasannya fokus dalam hal mempelajari struktur kata secara baik dan benar. Sedangkan pada ilmu shorof perubahan yang dipelajari adalah dari satu bentuk yang berubah menjadi bentuk lainnya.
  • Dalam ilmu shorof telah terdapat pembagian bentuk kata. Kemudian pada ilmu nahwu hanya terdapat kaidah Menyusun kalimat yang benar dengan memberikan harakat yang tepat.
  • Shorof menentukan adanya perubahan bentuk kata dari bentuk awal menjadi bentuk lainnya. Pada nahwu mengatur perbedaan harakat yang digunakan. perbedaan harakat tersebut dapat mengakibatkan perbedaan makna.

Pembagian Kalimat


  • Nahwu

Dalam ilmu nahwu, sahabat muslim juga akan bertemu dengan kalam. Ketika sebuah kalimat disusun dan menjadi kata yang sempurna, atau sesuai kaidah nahwu telah memberikan pergantian dengan hukum tertentu, maka sempurnalah kalimat tersebut. Perubahan kalimat menjadi sempurna inilah yang disebut dengan kalam (الكَلاَم). Dalam bahasa Arab, kalimat tersebut dibagi dalam 3 jenis, yaitu:

  • Kalimah Fiil (الفِعْلُ) = Kata kerja
  • Kalimah Isim (الإِسْمُ) = Kata Benda
  • Kalimah Harf (الحَرْفُ) = Kata Tugas.

  • Shorof

perubahan kedalam beberapa bentuk lainnya. Contohnya adalah Fi’il Madhi, Fi’il Amar, Fi’il Mudhari,   Fi’il Maf’ul. Fi’il Nahi, Isim Zaman, Isim Makan, Isim Murrah, isim, Alat, Isim Nau’m dan lain sebagainya.            Contoh dari bentuk di atas adalah.

Baca Juga : Kupas Tuntas Khobar Muqoddam dan Mubtada Muakhor

  • Asal kalimat adalah Fi’il Madhi menjadi: ضَرَب dibaca: Dharaba, bermakna: Telah memukul.
  • Diubah ke sampel Fi’il Mudhari’ menjadi: يَضْرِبُ dibaca: Yadhribu bermakna: Akan memukul.
  • Diubah menjadi contoh lain misalnya Masdar: ضَرْبٌ dibaca: Dharbun, bermakna: Pukulan.

Diubah ke sampel Fi’il Amar menjadi:  اِضْرِبْ dibaca: Idhrib bermakna: Pukullah! Dan sebagainya.

Berbicara tentang bahasa Arab, maka bisa dipastikan harus menguasai terlebih dahulu akan ilmu nahwu dan juga shorof. Kedua ilmu ini saling melengkapi untuk membentuk suatu kalimat yang sempurna. Para sahabat muslim juga bisa melihat contoh nahwu shorof untuk lebih detailnya. Dengan menguasai bahasa Arab akan sungguh lebih baik untuk menghindari makna yang berubah.

Pemuda Muslim Yang Hoby Menulis #Publisher #Programmer #Blogger #SEO