Tashrif Isim Fa’il

Posted on

Pengetahuan tentang tata bahasa sangat luas pembahasannya. Termasuk di dalamnya adalah tata bahasa pada bahasa Arab. Apabila sahabat muslim sudah pernah belajar tentang isim, maka terdapat beberapa macam isim yang ada dalam suatu kalimat. Setidaknya terdapat sepuluh perubahan kata kerja. Salah satunya adalah isim fa’il.Isim Fa'il

Dalam penggunaannya pada kalimat, fa’il ini berpasangan dengan isim maf’ul. Kedua isim ini memiliki perbedaan makna dan posisi. Satu isim berfungsi sebagai subjek sedangkan isim lainnya fungsinya menjadi objek. Kaidah ini hampir sama dengan kalimat yang ada pada bahasa Indonesia. unsur kalimat yang digunakan selalu memiliki objek dan subjek.

Baca Juga : Ciri-ciri Isim Muannats


Isim Fa’il

Secara sederhana, fa’il adalah sebuah subjek. Keberadaan isim ini merupakan hasil dari transformasi sebuah kata kerja menjadi kata benda, yang menunjukkan pelaku dari kata kerja yang dilakukan. Contohnya adalah dari kata “curi” atau “mencuri” berubah menjadi “pencuri”. Apabila dalam tatanan bahasa Indonesia, hanya perlu ditambahkan awalan “pe-“ atau “pen-“.

Menurut kaidah bahasa Arab, perubahan kata tersebut tidak semudah pada tatanan bahasa Indonesia. Terdapat aturan tersendiri yang berdasarkan ilmu. Untuk bisa membuat isim fa’il tersebut, sahabat muslim dapat mempelajari mulai dari tingkat dasar terlebih dahulu. Konsep dasar dari sebuah kalimat menjadi patokan ketika harus merubah isim lain menjadi fa’il.


Cara Membuat Isim Fa’il

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah pastikan jumlah huruf yang terdapat pada kata dasar fi’il tersebut. Sahabat muslim perlu tahu bahwa fi’il ada yang berdasarkan tiga huruf, yaitu fi’il tsulatsi mujarrad untuk kata asli. Terdapat juga fi’il tsulatsi mazid yang digunakan sebagai kata dengan tambahan huruf lainnya. Fi’il yang terakhir adalah berdasarkan empat huruf yaitu fi’il ruba’i mujarrad.

Baca Juga : Contoh dan Pembagian Isim Majrur


Isim Fa’il bagi Fi’il Tsulatsi Mujarrad

  • Ketentuan yang pertama adalah pada pola 1, 2, 3 atau pola fa-‘a-la, berikan tambahan huruf Alif pada huruf setelah kata pertama. Cara ini akan mengubah pola menjadi fa-a-‘a-la atau dalam kode huruf yaitu huruf 1, a, 2, 3.
  • Ketentuan lainnya adalah, ketika terdapat pola fa-‘a’-la dengan huruf tengahnya adalah huruf Alif, maka huruf Alif tersebut diganti dengan huruf hamzah. Selanjutnya pola akan berubah menjadi fa-a-‘a-la akan menjadi fa-hamzah-‘a-la.
  • Ketentuan untuk kedua syarat di atas adalah, merubah harakat pada huruf tengah atau huruf dua dari fathah sehingga menjadi kasrah.

            Contoh:

Bahasa Arab Fi’il Cara Baca Bahasa Indonesia Bahasa Arab
Isim Fa’il
Cara Baca Bahasa Indonesia
ضَرَبَ dharaba memukul ضَارِب dhaaribun alat pukul
كَتَبَ kataba menulis كَاتِبٌ kaatibun alat tulis
قَالَ qaala berkata قَائِلٌ qaaila alat bantu berkata

Pada Isim Tsulatsi Mazid dan Isim Ruba’i memiliki kesamaan dalam merubah fa’il.

  • Ketika sahabat muslim semuanya mengetahui bentuk fi’il madhiy atau dalam bahasa Inggris disebut past tense-nya, maka ubahlah bentuk fi’il madhiy pada bentuk fi’il mudhari. Cara ini akan merubah pola dari fa-‘a-la kemudian menjadi yu-fa-‘a-la.
  • Merubah huruf “yu” sehingga menjadi “mim” berharakatmu (dhammah).
  • Merubah harakat ‘a dari fathah, akan menjadi kasar atau dari ‘a menjadi ‘i.

Baca Juga : Contoh Isim Mudzakkar

            Contoh:

Bahasa Arab Fi’il Madhi- Fi’il Mudhari Cara Baca Bahasa Indonesia Bahasa Arab Isim Fa’il Cara Baca Bahasa Indonesia
أَكْرَمَ – يُكْرِمُ Akrama- yukramu memuliakan مُكْرِمٌ mukramun orang yang memuliakan
اِسْتَقْبَلَ – يَسْتَقْبِلُ istaqbala-yastaqbilu memulai yang baru مُسْتَقْبِلٌ mustaqbilun masa yang akan datang
تَوَاجَهَ – يَتَوَاجَهُ tawaajah- yatawajah menghadap مُتَوَاجِهٌ mutawaajih orang yang menghadap

Fungsi Isim Fa’il

  • Merubah fi’il lazim yaitu kata kerja intransitif, kata kerja yang tidak menggunakan imbuhan dan tidak membutuhkan objek, agar bisa membuat kalimat tersusun sempurna. Perubahan ini akan membuat fi’il lazim menjadi fa’il ber-i’rab rofa’ atau kata yang memiliki huruf akhir berharakat dhammah tanwin/wau/alif/nun.

Contohnya adalah “Khalid perkataannya benar”, maka sahabat muslim bisa mengunakan خَالِدٌ صَادِقٌ لِسَانُهُ (Khaalid Shaadiqu lisaanuhu- literal meaning: khalid adalah orang yang benar perkataannya) dan isim fa’il ‘shaadiqu’ dibentuk dari fi’il lazim صَدَقَ  (membenarkan). Anda tak benar-benar perlu menambahkan ‘lisaanuhu’ untuk menyatakan Khalid benar.

  • Merubah fi’il mu’ atau kata kerja yang membutuhkan objek sebagai syarat kalimat sempurna, menjadi ber-i’rab rofa’. Kemudian ubahlah maf’ul bih atau objek menjadi berkharakat fathah/ alif /kasrah yang disebut ber’irab nashab. Contohnya adalah “Khalid memukul anjingnya” Anda bisa mengatakan خَالِدٌ ضَارِبٌ كَلْبَهُ (khalidun dhaariba kalbahu). Bisa dilihat bahwa ‘dhaaribu’ berharakat dhommah (rofa’) dan kalba berharakat fathah (nashab).

Baca Juga : Contoh Isim Isyarah


I’rab untuk Isim Fa’il

Sahabat muslim sekalian, masih ingatkah dengan mubtada’ dan Khobar. Mengingat kembali ilmu tentang isim, yang dimaksud dengan mubtada’ atau subjek. Khobar dalam bahasa Indonesia disebut dengan perdikat. Salah satu kata dalam kalimat tersebut akan menjadi mudtada’ dan fa’il. Ketika fa’il menjadi mubtada maka bentuk kata akan sesuai dengan pola dasar.

Apabila fa’il yang berdiri sebagai mubtada’ memiliki bentuk mufrad dan juga isim bagian khobar akan berubah bentuk menjadi jamak. Bentuk ini akan membentuk raim isim fa’il in rofa’. Namun akan berbeda perlakuan jika fa’il berubah menjadi khobar, maka terdapat beberapa jenis i’rab yang berlaku sebagai berikut.

  • Apabila terdapat kata dimubtada’ dan isim fa’il adalah mufrad, maka menggunakan i’rab rofa’. Ciri dari isim ini adalah memiliki harakat dhammah tanwin pada akhir kata. Contohnya adalah ضَارِبٌ  (dhaaribun, orang yang memukul).
  • Apabila kata yang berada pada mubtada’ dan isim fa’il dilakukan khobar secara bersama mutsanna, maka menggunakan i’rab rofa’. Namun pada kali ini menggunakan huruf alif dan nun yang berada di belakang kata. Contohnya ضَارِبٌ (dhaaribun, orang yang memukul) menjadi ضَارِبَانِ  (dhaaribaani, dua orang yang memukul).
  • Apabila kata yang terdapat pada mubtada’ dan isim fa’il dilakukan khobar jamak, maka gunakanlah i’rab rofa’. Penggunaannya dengan menyematkan huruf wauw dan nun pada bagian belakang kata. Contohnya adalah ضَارِبٌ (dhaaribun, orang yang memukul) menjadi ضاربون (dhaaribuun, banyak orang yang memukul).

Baca Juga : Tasrif Isim Maf’ul

Belajar tentang struktur kata dalam bahasa Arab memang sangat menarik. Sahabat muslim akan semakin bertambah wawasannya tentang sastra Arab. Untuk membentuk suatu kalimat, dalam bahasa Arab dikenal dengan namanya isim. Jenisnya cukup banyak, termasuk isim fa’il. Dengan adanya kaidah yang ditentukan, maka kalimat yang disusun akan menjadi sebuah kalimat sempurna.

Pemuda Muslim Yang Hoby Menulis #Publisher #Programmer #Blogger #SEO